PENAJABAR.COM - Kamu pernah ngerasain lebih ringan setelah menulis, menggambar, atau mendengarkan lagu? Itu pertanda jiwa kamu sedang ingin didengar.

Banyak orang berpikir bahwa seni hanya soal bakat atau kemampuan seseorang, bentuk ekspresi estetika semata. Padahal, dalam konteks kesehatan mental, seni adalah cara untuk bertahan hidup.

Ketika tak ada lagi kata-kata penguat dari seseorang, atau pelukan hangat yang menenangkan, kuas dan cat bahkan selembar kertas bisa menjadi jembatan menuju pemulihan diri.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Vincent van Gogh, pelukis pasca-impresionis yang karyanya kini dianggap sebagai mahakarya dunia.

Dibalik goresan cat minyak berwarna kuning yang berpadu dengan biru gelap bergelombang dalam Starry Night, tersimpan pergulatan batin yang panjang.

Van Gogh hidup dengan gangguan mental, kesepian, dan depresi mendalam. Namun justru dari rasa sakit itulah lahir karya yang memancarkan kehidupan dan harapan.

Kisah serupa bisa kita temukan pada pelukis simbolis asal Swiss, Arnold Böcklin, lewat karyanya Isle of the Dead (Pulau Orang Mati).

Lukisan itu menggambarkan sosok berpakaian putih di atas perahu menuju pulau sunyi dengan pepohonan cemara menjulang.

Nuansanya kelam namun damai — seolah melambangkan perjalanan manusia menuju keheningan batin, sebuah perenungan atas hidup dan kematian.