PENAJABAR.COM - Di era kedewasaan teknologi ini, organisasi menghadapi satu tangan baru, yaitu kecerdasan buatan (AI). Era yang serba instan, semua informasi bisa didapat dengan cepat.
Hal ini memunculkan banyak klaim organisasi tidak lagi relevan. Kampus, yang seharusnya menjadi laboratorium ilmu pengetahuan mulai mendoktrin mahasiswa dengan kata “kuliah jangan ikut organisasi nanti lulusnya lama”.
Ini merupakan suatu pikiran yang keliru, organisasi bukan hanya kumpulan individu yang datang duduk bersama berbicara yang tidak berfaedah lalu pulang.
Organisasi lebih dari pada itu, ia adalah rumah yang menampung segala bentuk perbedaan. Menjadi wadah untuk ruang Konselor, tempat segala ide-ide cemerlang dilahirkan.
Walaupun organisasi merupakan sekumpulan individu yang mengoranisirkan diri, namun di organisasilah individu dapat menjadi pribadi yang lebih utuh, dan bisa berproses untuk tumbuh, ditempah dan diasah.
Ia dapat mengembangkan kreativitas dan potensi yang ada dalam dirinya, dapat menemukan dirinya untuk belajar melalui metode apa (auditorial, kinestetik, dll), itu semua difasilitasi oleh organisasi.
Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membentuk karakter seorang untuk menjadi pribadi yang lebih merdeka.
Dan ini hanya ada di organisasi, kampus tidak benar-benar memfasilitasi untuk itu semua, bahkan kecerdasan buatan pun bukan solusi untuk membentuk karakter, karena karakter ditempah melalui proses.
Kalau ruang gerak mahasiswa dibatasi. Konsepsi yang ada dalam kata (maha-siswa) itu tidak lagi "maha" yang dalam artian bergerak dan berpikir bebas, ia hanya sebatas siswa yang hanya sebatas belajar dan mengikuti tanpa tahu arah pisau analisanya tumpul.