PENAJABAR.COM, BOGOR - Setahun sudah pemerintahan Prabowo–Gibran berlangsung. Sebuah pemerintahan yang bagi sebagian kalangan, dianggap lahir dari kompromi antara kekuasaan dan konstitusi antara idealisme dan oligarki.
Sebagaimana pembuahan yang tidak sempurna, kelahiran pemerintahan ini pun menyisakan tanda tanya akan kualitas demokrasi yang melahirkannya.
Narasi “Indonesia Maju”, “Indonesia Berdikari”, hingga “Indonesia Emas” terus digembar-gemborkan sebagai slogan pembangunan.
Namun dibalik gegap gempitanya, pemerintahan ini justru tampak gamang, seperti diungkap oleh Prof. Zainal Arifin Mochtar dalam film Dirty Vote 02, sebuah pemerintahan yang insecure, mudah cemas, dan reaktif terhadap kritik.
Asumsi ini tentu tidak lahir dari prasangka semata. Kita bisa melihat dengan mata telanjang bahwa pemerintahan hari ini berperilaku seperti individu yang dilanda fear bias-bias ketakutan yang membuatnya selalu merasa ada ancaman dari segala arah.
Ketakutan itu menjelma dalam kebijakan yang reaktif, komunikasi politik yang defensif, dan narasi publik yang dibangun diatas rasa curiga.
Bias Ketakutan dan Politik yang Defensif
Dalam psikologi politik, fear bias adalah kecenderungan untuk menafsirkan kritik atau ketidakpastian sebagai ancaman terhadap eksistensi.
Ketika pemimpin merasa dikepung oleh bayangan “musuh”, setiap perbedaan pendapat pun dibaca sebagai serangan, bukan sebagai masukan.