PENAJABAR.COM - Pernahkah kamu merasa hancur tapi tak tahu bagaimana cara sembuh? Dalam It’s Okay to Not Be Okay, luka batin orang dewasa disembuhkan bukan lewat nasihat berat, melainkan lewat kisah dongeng anak-anak.
Setiap buku yang ditulis oleh Ko Moon-young bukan sekadar bacaan untuk anak kecil. Dibalik ilustrasi indah dan narasi sederhana, tersimpan pesan yang menusuk hati — tentang kesepian, kehilangan, dan penerimaan diri.
Melalui cerita-cerita ini, drama tersebut menunjukkan bahwa bahkan luka masa kecil yang tak terselesaikan bisa tetap tumbuh bersama kita hingga dewasa.
Namun, lewat proses memahami makna di balik dongeng itu, para tokohnya perlahan belajar satu hal penting, bahwa menyembuhkan diri bukan berarti melupakan masa lalu, melainkan berani menatapnya dengan lembut.
Menariknya, fun fact! Set buku anak-anak yang muncul dalam drama ini benar-benar diterbitkan di dunia nyata.
Buku-buku karya karakter Ko Moon-young bukan sekadar hiasan, melainkan simbol psikologis dan cermin emosi karakter utama.
Setiap buku merepresentasikan trauma, luka batin, dan perjalanan menuju penyembuhan diri.
Lewat gaya bercerita seperti dongeng anak-anak, drama ini justru menyampaikan pelajaran hidup orang dewasa yang dalam dan menyentuh.
Berikut beberapa buku paling ikonik dari It’s Okay to Not Be Okay dan pesan yang bisa kita petik darinya: