PENAJABAR.COM, CIAWI - Dalam satu tahun pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, masyarakat menyaksikan dinamika yang cukup menarik terhadap dua isu besar yakni food estate dan tambang.
Ditengah upaya pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan dan memanfaatkan sumber daya alam, banyak suara yang muncul dari berbagai kalangan, menciptakan narasi yang beragam tentang dampak dari kebijakan ini.
Sejak awal, program food estate menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Prabowo-Gibran. Dengan semangat untuk meningkatkan produksi pangan nasional, pemerintah meluncurkan proyek-proyek pertanian skala besar dibeberapa daerah.
Namun, dibalik niat baik tersebut, muncul berbagai pertanyaan dan kekhawatiran. Para petani lokal merasa terpinggirkan, dan ada anggapan bahwa proyek ini lebih menguntungkan perusahaan besar daripada masyarakat kecil.
Ditengah hiruk-pikuk pembangunan food estate, masyarakat mulai bersuara. Di desa-desa yang terdampak, para petani bercerita tentang kehilangan lahan mereka, yang sebelumnya digunakan untuk bercocok tanam secara tradisional.
Rasa ketidakadilan ini semakin menguat ketika mereka melihat lahan subur digantikan oleh monokultur yang tidak ramah lingkungan.
Sementara itu, isu tambang juga tak kalah penting. Indonesia yang kaya akan sumber daya mineral, dan eksploitasi tambang sering kali menjadi sumber konflik.
Banyak warga yang merasakan dampak negatif dari kegiatan pertambangan, seperti pencemaran air dan kerusakan hutan.
Kedepannya, besar harapan saya agar pemerintahan Prabowo-Gibran dapat mendengarkan suara rakyat.