PENAJABAR.COM - Bukan hanya sekali beberapa guru yang mendapatkan intimidasi, penindasan bahkan kekerasan oleh kepala sekolah. Pemimpin yang diharapkan menjadi pelindung, mengayomi serta membimbing. Bisa menjadi manusia yang paling membuat kehidupan kerja di sekolah dipenuhi dengan tekanan dan stress.
Guru dituntut harus profesional, selalu bahagia, bisa mengikuti kultur kerja dengan dinamis, mengajar dengan penuh dedikasi, bertanggung jawab akan kualitas sekolah dan lulusan peserta didik.
Namun, tak sebanding dengan kerugian, rasa sakit serta penderitaan yang dirasakan akibat kepemimpinan yang otoriter, dan semaunya dari kepala sekolah.
Bagaimana bisa, kami, para guru memenuhi ekspektasi dari lembaga pendidikan juga kepala sekolah jika ketenangan, kedamaian juga kesejahteraan kami diabaikan lagi diremehkan
Seolah-olah guru hanyalah mesin yang tidak memiliki jiwa dan perasaan, juga hati nurani. Tak sedikit kepala sekolah yang bersikap, bertindak dengan semena-mena. Menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas para guru.
Menormalisasi untuk melampiaskan kekesalan dan kemarahan pribadi melalui pekerjaan, mencari-cari kesalahan guru, menekan, mempermalukan guru, mengadu domba, merundung, menghina dan mengecilkan para guru.
Bagaimana bisa, kami, para guru tetap waras, sehat dan tenang juga profesional dalam menjalankan tugas di sekolah. Jika mental kami sudah hancur dan dirusak dengan perilaku juga sikap semena-mena dan angkuh dari kepala sekolah?
Pelanggaran kode etik dimana-mana, kekerasan emosional dan psikologis seakan-akan menjadi makanan sehari-hari, belum lagi jika sentimen pribadi ditujukan kepada guru, kepala sekolah seolah merasa bebas memperlakukan guru dengan tidak adil, memberikan nilai kinerja guru pas-pasan, dan terus menindas juga mengintimidasi.
Bagaimana bisa, kami, para guru mencetak anak bangsa yang bahagia, berkualitas dan sehat jika kami terus-terusan menjadi korban dari penindasan juga kekerasan yang dilakukan oleh kepala sekolah terhadap kami?