PENAJABAR.COM, CIBINONG — Bupati Bogor, Rudy Susmanto menegaskan bahwa Program Makan Bergizi (MBG) tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan kesehatan anak sekolah, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menggerakkan ekonomi masyarakat Kabupaten Bogor.

Program ini diharapkan menjadi motor utama peningkatan kesejahteraan warga melalui penciptaan lapangan kerja dan perputaran ekonomi lokal berskala besar.

Rudy Susmanto menjelaskan, melalui skema MBG, pemerintah daerah menargetkan pendirian 570 dapur produksi yang beroperasi setiap hari untuk memenuhi kebutuhan makan bergizi bagi peserta didik.

Setiap dapur akan mempekerjakan rata-rata 50 pekerja, mulai dari juru masak hingga petugas kebersihan, sehingga total tenaga kerja baru yang terserap mencapai sekitar 28.500 orang.

“Satu dapur itu rata-rata mempekerjakan 50 orang, mulai dari tukang masak, tukang membersihkan, hingga tukang cuci. Kalau kita punya 570 dapur, maka ada 28.500 orang yang akan mendapatkan pekerjaan baru,” jelasnya yang dikutip dari laman resmi Pemkab Bogor pada Jumat (17/10).

Selain membuka lapangan kerja, Rudy Susmanto juga menegaskan bahwa program ini juga membawa dampak ekonomi makro yang signifikan.

Operasional MBG akan mengandalkan dana pusat senilai Rp6,12 triliun per tahun, yang seluruhnya akan berputar di Kabupaten Bogor tanpa membebani APBD daerah.

“Total dana pusat sebesar Rp6,12 triliun per tahun akan berputar di Kabupaten Bogor. Nilai ini setara dengan setengah APBD kita,” ujarnya.

Dana tersebut, lanjut Rudy Susmanto, akan digunakan untuk membeli berbagai bahan pokok dari pedagang dan petani lokal seperti beras, cabai, bawang, dan telur yang diproduksi oleh masyarakat Kabupaten Bogor.